terdengar suara ayah! ayah ada disini.. tapi aku mendengar nada kecemasan dari suara ayah yang sepertinya sedang berbicara dengan, dokter? apa aku ada di rumah sakit?
"dok, bagaimana keadaan anak saya?"
"sepertinya anak anda agak sedikit mengalami tekanan batin. dan karna kecelakaan yang dialaminya, tangan kanannya patah lalu benturan yang cukup keras dikepalanya menyebabkan kerusakan yang cukup serius di syaraf matanya dan itu mengganggu penglihatan anak anda. mohon maaf pak andi, anak anda mengalami kebutaan" kata dokter itu
mendengar penjelasan dokter, sungguh aku sangat terpukul. aku buta! aku tak dapat melihat lagi! tapi aku tak percaya, ini hanya mimpi. hanya mimpi...
"Ya Tuhan.. tapi dok, mata ditha masih bisa disembuhkan kan? ditha masih bisa melihat kan?"
"Ya, tentu saja pak. dengan operasi mata, ditha masih bisa disembuhkan. dan untuk melakukan operasi ini, ditha harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar"
"apapun, dok, untuk ditha. yang penting ditha bisa melihat lagi"
"iya, pak. kalau begitu saya akan membuat surat rujukan rumah sakit dulu. tabah ya pak!"
ku dengar langkah kaki dokter yang meninggalkan ruanganku. dan ku rasakan tanganku yang digenggam erat oleh ayah. dan ku dengar suara ayah yang menangis. aku tak tahan, aku mencoba membuka mataku, tapi terasa sangat berat dan kenapa gelap? ku rasa aku sudah benar-benar membuka mataku, tapi kenapa tetap gelap?
Sudah seminggu ku lewati sejak hari itu. Aku berniat untuk menemui Adith lagi setelah pulang sekolah nanti dan aku akan mengajak Lisna dan Heri. Aku akan menggunakan segala cara supaya mereka mau ikut! Maka saat istirahat aku menghampiri mereka dikantin.
"Lis, kamu mau makan apa?" tanyaku pada Lisna
"Aku mau bakso"
"Heri mau makan apa?" tanyaku pada Heri
"Aku mau ketoprak"
"Minumnya?" tanyaku pada mereka berdua
"Kenapa sih nanya-nanya? Kamu teh mau bayarin kita? Hehe.." tanya Heri
"Iya, aku mau bayarin kalian. Aku lagi dikasih uang lebih hari ini"
"Ah, nu bener?"
"Beneran!"
"Ada imbalan gak nih?" tanya Lisna
"Emm.. nggak kok, nggak ada! Beneran! Udah pokoknya semua jajan kalian hari ini aku yang bayarin, oke?"
Dan akhirnya aku mengorbankan uang jajanku untuk mentraktir mereka.. huhh.. untungnya aku bawa bekal. Dan saat pulang sekolah, aku mulai melancarkan aksiku.
"Hooooaaamm..." ku buka mataku dan akhirnya aku terbangun dari tidurku dan langsung duduk. Ku lihat Ayah yang sedang sibuk berbincang di handphone, dan Pak Karyo, supir kami yang sedang serius membawa kendaraan kami. Dan aku melihat pemandangan sebelah kanan dan kiriku, terlihat hamparan sawah luas dan bukit-bukit. Aku sudah berada di Desa tempat tinggal Nenek ku!
"Yah, masih jauh gak?" tanyaku
"Sebentar lagi sayang" jawab Ayah dan langsung kembali ke handphonenya.
Hmm.. Aku akan tinggal bersama Nenek setelah Bunda ku meninggal 1 bulan yang lalu. Oya, kenalkan, aku Dhita Gadis Pramurya, usiaku 16 tahun dan baru masuk kelas 1 SMA. Aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakak pertamaku, Birma Hadi Pramurya, usia 23 tahun dan sekarang dia sedang kuliah di Perancis karena dapat beasiswa. Kakak ku ini memang super jenius lho! Dan kakak kedua ku, Ceyla Putri Pramurya, dia sudah Almarhumah. Dia meninggal saat kelas 3 SMP, dia kecelakaan disaat kemping. Dia memanjat pohon dan terjatuh, kepalanya membentur batu besar yang ada dibawah. Malang nian kakak ku yang cantik ini.
Dan Bundaku, Anytha Larasati, meninggal karena sakit. Aku tidak tahu Bundaku sakit apa, Ayah dan Kak Birma tidak mau memberitahuku! Ayahku, Andi Pramurya adalah seorang Manager disebuah perusahaan yang cukup besar di Bandung. Ayah selalu sibuk, makanya Ayah mengirimku ke rumah nenek untuk tinggal bersamanya karena dirumah tidak ada lagi yang bisa mengurusku, dan aku pun akan memulai pelajaran baru di kelas 1 SMA. Ya, aku akan sekolah disana.
"Sayang, kita sudah sampai. Ayo bangun!" Ayah membangunkan ku
"Emmm.. masih ngantuk, Yah!"
"Dhita, ayo bangun! Itu nenek sudah menunggu"
Akupun bangun dan langsung melihat Nenek ku yang sudah berdiri didepan rumah dengan wajah yang terlihat sangat merindukan cucunya ini..
"Neneeek. . . Dhita kangen Nenek!" teriak ku sambil berlari keluar mobil
"Iya sayang, Nenek juga kangen Dhita"
"Nenek gimana kabarnya? Si Endut mana, Nek?"
"Nenek baik-baik aja, tuh si Endut dibelakang lagi tidur. Kucing itu sekarang kurus!"
"Kok kurus? Nenek gak kasih makan ya?"
"Dia udah kebanyakan ngelahirin anak"
"Wahh.. dasar kucing centil! Hahaha"
Aku pun bergegas masuk kedalam rumah dan mencari-cari kucing yang sudah lama ku tinggalkan. Tapi tak ku temukan, mungkin dia sedang mencari pasangan. hehehe..
Malampun tiba dan aku sudah bersiap-siap untuk tidur lagi. Tapi aku mendengar percakapan antara Ayah dan Nenek.

